
Mengapa Anak Sekarang Terlihat Semakin Malas? Saatnya Bangkit dan Berprestasi
Di era digital seperti sekarang, kita sering mendengar keluhan bahwa anak-anak dan remaja semakin malas belajar, sulit berkonsentrasi, mudah menyerah, atau lebih memilih bermain gadget daripada mengembangkan diri.
Namun, apakah mereka benar-benar malas?
Tidak selalu..
Rasa malas sering kali bukan sekadar sifat bawaan. Kebiasaan sehari-hari, lingkungan, kurangnya tujuan, terlalu banyak distraksi, kurang tidur, serta pola hidup yang tidak teratur dapat membuat seseorang kehilangan energi dan motivasi untuk melakukan sesuatu.
Karena itu, daripada hanya mengatakan “anak sekarang pemalas”, jauh lebih penting bagi kita untuk memahami penyebabnya dan membantu mereka membangun kebiasaan yang lebih baik.
1. Terlalu Banyak Distraksi
Smartphone, media sosial, video pendek, game, dan berbagai hiburan digital memberikan kesenangan secara cepat. Akibatnya, belajar yang membutuhkan konsentrasi dan proses panjang terasa lebih berat.
WHO juga merekomendasikan agar anak dan remaja membatasi perilaku sedentari, khususnya waktu rekreasi berbasis layar.
Bukan berarti gadget harus dijauhi sepenuhnya. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk mengendalikan gadget, bukan dikendalikan gadget.
2. Terlalu Nyaman
Anak yang selalu dibantu dan jarang diberi tanggung jawab dapat kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri.
Mulai dari hal sederhana: merapikan kamar, menyiapkan perlengkapan sekolah, menyelesaikan tugas tepat waktu, hingga bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri.
“Kemandirian lahir dari kebiasaan melakukan sesuatu sendiri”.
3. Tidak Memiliki Tujuan yang Jelas
Sulit bagi seseorang untuk bersemangat jika tidak tahu untuk apa ia belajar.
Anak perlu diajak menjawab pertanyaan:
“Aku ingin menjadi apa?”
“Keahlian apa yang ingin aku kuasai?”
“Apa yang ingin aku capai setelah lulus?”
Bagi siswa SMK, tujuan tersebut dapat dikaitkan dengan kompetensi keahlian, dunia kerja, wirausaha, kuliah, maupun cita-cita pribadi.
Ketika tujuan mulai jelas, belajar tidak lagi terasa sekadar kewajiban sekolah.
4. Kurang Tidur dan Pola Hidup Tidak Teratur
Remaja membutuhkan tidur yang cukup. CDC mencatat bahwa remaja usia 13–18 tahun membutuhkan sekitar 8–10 jam tidur per hari. Kurang tidur dapat berkaitan dengan masalah perhatian dan perilaku serta berdampak pada prestasi akademik.
Karena itu, kebiasaan begadang untuk bermain game, scrolling media sosial, atau menonton video perlu dikurangi.
Tidur cukup bukan berarti malas.
Justru tidur cukup membantu tubuh dan otak siap belajar.
5. Kurang Bergerak
Belajar tidak hanya membutuhkan buku dan meja belajar. Tubuh yang aktif juga penting.
Aktivitas fisik pada anak dan remaja dapat membantu konsentrasi, kemampuan kognitif, serta performa akademik. CDC merekomendasikan anak dan remaja usia 6–17 tahun melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari.
Tidak harus olahraga berat. Berjalan kaki, bersepeda, bermain olahraga, membersihkan lingkungan sekolah, atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup aktif.
Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Menjadi rajin bukan berarti harus belajar 10 jam sehari.
Yang lebih penting adalah konsisten melakukan hal-hal kecil setiap hari.
1. Tentukan Target
Jangan hanya berkata:
“Saya ingin sukses.”
Buat target yang lebih jelas.
Misalnya:
- Nilai matematika meningkat.
- Menguasai satu keterampilan baru.
- Mengikuti lomba.
- Aktif dalam organisasi atau ekstrakurikuler.
- Menyelesaikan tugas sebelum batas waktu.
- Menguasai kompetensi keahlian sebelum PKL.
2. Buat Jadwal Sederhana
Atur waktu untuk sekolah, belajar, ibadah, olahraga, bermain, keluarga, dan istirahat.
Tidak perlu jadwal yang terlalu rumit.
Yang terpenting adalah dijalankan secara konsisten.
3. Kurangi Distraksi
Saat belajar, letakkan smartphone jauh dari jangkauan.
Matikan notifikasi yang tidak penting.
Gunakan gadget sebagai alat belajar, bukan sebagai sumber gangguan.
4. Mulai dari 15–30 Menit
Jangan menunggu sampai memiliki motivasi besar.
Mulailah dengan belajar 15–30 menit.
Setelah terbiasa, durasinya dapat ditingkatkan.
“Motivasi sering kali muncul setelah kita mulai bergerak, bukan sebelum bergerak”.
5. Jangan Takut Gagal
Nilai yang kurang bagus bukan berarti masa depan selesai.
Kegagalan adalah informasi tentang apa yang perlu diperbaiki.
Yang berbahaya bukan gagal.
Yang berbahaya adalah berhenti mencoba.
6. Cari Lingkungan yang Positif
Teman sangat berpengaruh terhadap kebiasaan.
Bertemanlah dengan orang-orang yang mendorong kita untuk belajar, berkarya, berolahraga, berorganisasi, dan berkembang.
7. Belajar, Praktik, Evaluasi
Bagi siswa SMK, jangan hanya mengejar nilai.
Bangun juga keterampilan nyata.
Belajar → Praktik → Salah → Evaluasi → Perbaiki → Bisa.
Itulah proses menjadi kompeten.
Prestasi Tidak Datang dalam Semalam
Siswa yang berprestasi bukan berarti selalu rajin setiap saat.
Mereka juga bisa merasa bosan, lelah, dan ingin menyerah.
Perbedaannya adalah mereka belajar untuk kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan.
Sekolah, guru, orang tua, dan lingkungan memiliki peran penting dalam membantu anak membangun kebiasaan positif. Sekolah juga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, keterlibatan, dan keberhasilan akademik siswa.
Ingat!
Malas hari ini bukan berarti akan malas selamanya.
Kebiasaan bisa diubah.
Mulailah dari satu langkah kecil:
Kurangi scrolling.
Tambah belajar.
Perbanyak bergerak.
Atur waktu.
Tetapkan tujuan.
Berani mencoba.
Jangan mudah menyerah.
Karena masa depan yang hebat tidak dibangun dalam satu hari.
Masa depan dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Pesan untuk Siswa SMKN 17 Samarinda
Kalian tidak harus menjadi yang paling pintar di kelas.
Tetapi jadilah orang yang mau belajar, mau mencoba, mau bekerja keras, mau menerima kesalahan, dan mau terus berkembang.
Kamu bisa.
Kamu hebat.
Kamu bisa berprestasi.
Mulailah hari ini.