Kenapa kualitas udara di samarinda pada malam hari buruk bagi kesehatan?

Kenapa kualitas udara di samarinda pada malam hari buruk bagi kesehatan?

pola yang Anda rasakan di Samarinda akhir-akhir ini memang masuk akal secara meteorologis, terutama karena sedang ada dampak karhutla. Yang menarik, udara bisa jauh lebih buruk pada malam–dini hari dibandingkan siang, meskipun sumber asapnya tidak selalu bertambah pada malam hari.

Mengapa malam hari lebih buruk?

1. Terjadi inversi suhu pada malam hari

Ini faktor yang sangat penting. Setelah matahari terbenam, permukaan tanah cepat mendingin. Udara yang dekat permukaan ikut menjadi dingin, sementara udara di atasnya relatif lebih hangat.

Akibatnya terbentuk semacam “tutup” atmosfer. Asap dan PM2.5 yang seharusnya naik dan menyebar ke atas menjadi terjebak dekat permukaan tempat kita bernapas.

BMKG/Labkes Kaltim memang mengidentifikasi fenomena inversi suhu sebagai salah satu penyebab meningkatnya konsentrasi polutan Samarinda pada malam hingga pagi hari.

Gambaran sederhananya:

SIANG HARI ☀️
        ↑  ↑  ↑
   asap lebih mudah naik
────────────────────
      permukaan


MALAM HARI 🌙
────────────────────
   udara lebih hangat
   "TUTUP / INVERSI"
────────────────────
  PM2.5  PM2.5  PM2.5
  asap terjebak dekat tanah
────────────────────
      Samarinda

2. Angin di Samarinda sedang sangat lemah

Ini juga memperparah keadaan. Pemantauan Labkes Kaltim menyebut angin dominan dari Timur Laut–Timur dengan kecepatan kurang dari 1 m/detik pada periode tersebut. Angin selemah ini membuat asap tidak cepat terdilusi atau terbawa keluar dari kawasan perkotaan.

Jadi kalau ada asap dari wilayah karhutla di sekitar Samarinda/Kukar, asapnya bisa masuk dan kemudian “mengendap” di sekitar kota.

3. Ada suplai asap dari karhutla di sekitar Samarinda

Ini bukan sekadar polusi kendaraan. Pada pertengahan September, asap karhutla dari wilayah Sungai Bawang, Kutai Kartanegara, dilaporkan terbawa angin menuju Samarinda dan bahkan memengaruhi jarak pandang.

Selain itu, pada 17 September terdapat 137 hotspot di sejumlah wilayah Kaltim, dengan konsentrasi terbanyak saat itu di Berau, meskipun hotspot satelit tidak otomatis berarti titik api aktif.

4. Siang hari matahari membantu “memecah” inversi

Begitu matahari mulai kuat, permukaan tanah menghangat.

Udara dekat permukaan menjadi lebih hangat → bergerak naik → pencampuran udara atmosfer meningkat → lapisan inversi mulai pecah.

Itulah sebabnya pola yang ditemukan Labkes Kaltim adalah polusi mulai meningkat sekitar pukul 02.00 hingga pagi, kemudian dapat membaik secara fluktuatif pada siang hari.

Dan datanya cukup ekstrem. Pada 17 September pukul 07.00 WITA, Samarinda tercatat:

  • ISPU: 357 – kategori Sangat Buruk
  • PM2.5: 194,42 µg/m³
  • PM10: 306,65 µg/m³

Bahkan pada 17 September malam, pemantauan PM2.5 menunjukkan sekitar 27 µg/m³ pukul 17.00, kemudian melonjak menjadi 199 µg/m³ pukul 20.00 dan sekitar 270,2 µg/m³ pukul 22.00. Ini sangat jelas menunjukkan bagaimana kondisi malam dapat berubah drastis.

Jadi, pola sederhananya sekarang kira-kira begini

Waktu Kondisi yang mungkin terjadi
15.00–18.00 Matahari masih membantu pencampuran udara
18.00–21.00 Mulai memburuk setelah matahari terbenam
21.00–02.00 Asap mulai terakumulasi
02.00–07.00 ⚠️ Sering menjadi periode paling buruk
07.00–10.00 Masih buruk karena inversi belum sepenuhnya pecah
10.00–16.00 Biasanya mulai membaik jika angin/pemanasan cukup
16.00–18.00 Bisa membaik sementara, tetapi dapat kembali memburuk malam hari

Jadi bukan berarti asap “muncul” pada malam hari. Lebih tepatnya, pada malam hari atmosfer menjadi kurang mampu membuang dan mencampurkan asap, sehingga PM2.5 yang sudah ada menjadi terkonsentrasi di lapisan udara yang kita hirup.

Kondisi Samarinda saat ini

Ada kabar baik: Pemkot Samarinda pada 20 September 2026 melaporkan kualitas udara sudah membaik, dengan ISPU sekitar 28 (kategori baik), sehingga pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan mulai 21 September. Namun pemerintah tetap meminta sekolah mempertahankan kewaspadaan karena ancaman karhutla belum sepenuhnya hilang.

Jadi, kalau malam ini kualitas udara kembali terlihat/tercium buruk meskipun siangnya bagus, hal tersebut tetap mungkin terjadi karena pola inversi, arah angin, dan asap dari titik karhutla dapat berubah dari jam ke jam.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.